Teks Kritik dan Esai

Nama: Dinah Umaimah Radani
Kelas: XII-MIPA 10
Absen: 04

Tugas Bahasa Indonesia
Kritik dan Esai

Teks Kritik

Teks Kritik Sastra Novel Dikta dan Hukum


     Novel ini karya Dhian Farah, memiliki ketebalan buku sebanyak 392 halaman, terbit pada tanggal 30 Mei 2021 oleh penerbit Asoka Aksara X Loveable. Tokoh yang digunakan seperti fanfict yang menggunakan orang nyata atau tokoh terkenal, tetapi identitas yang digunakan hanya fantasi atau imajinasi dari penulis.

     Novel ini menceritakan kisah Dikta dan Nadhira. Dikta adalah sosok laki-laki yang cuek, penyayang, pintar, disiplin dan pantang menyerah. Ia juga mahasiswa hukum semester terakhir di kampus ternama. Sedangkan Nadhira memiliki sikap yang tolak belakang dari sifat Dikta. Nadhira memiliki sifat pemalas dan gampang menyerah. Nadhira merupakan siswi SMA kelas 12. Dikta dan Nadhira adalah teman dari kecil, awalnya mereka tidak memiliki rasa saling suka. Dikta menganggap Nadhira adek, sedangkan Nadhira menganggap Dikta abang.

     Suatu hari, orangtua mereka menjodohkan Dikta dan Nadhira. Awalnya mereka menolak, karena mereka sama-sama memiliki kekasih. Seiring jalannya waktu Dikta dan Nadhira memiliki rasa cinta, mereka juga sudah putus dengan kekasihnya. Namun, semesta tidak merestui hubungan mereka. Rahasia terbesar yang selama ini Dikta tutupin, akhirnya terungkap dan diketahui oleh sahabatnya hingga Nadhira. Dikta tahu bahwa dirinya tidak lama lagi meninggal, umurnya hanya dihitung beberapa bulan lagi. Makanya Dikta membuat list to do yang ingin Ia wujud bersama sosok perempuan yang Ia cintai dan membuat banyak kenangan sebelum Ia meninggal.

     Dalam novel ini bertemakan kisah cinta mahasiswa hukum tingkat akhir dengan siswi kelas 12 SMA serta persahabatan Dikta bersama teman-temannya. Alur yang digunakan dalam cerita menggunakan alur maju. Setting waktu dalam novel yaitu pagi, siang, sore dan malam. Setting tempat yaitu rumah, sekolah, kampus, dan rumah sakit. Setting suasana yaitu menegangkan, senang, sedih, dan mengkhawatirkan.

     Penokohan dalam novel yaitu Dikta (pintar, disiplin, penyayang, cuek), Nadhira (pemalas, gampang ngeluh), Jeno (mantan pacar Nadhira, selingkuh, penyayang), Johnny (sahabat Dikta, gengsi), Jeffrey (sahabat Dikta, penyayang), Theo (sahabat Dikta, penyayang), Atuy (sahabat Dikta, penyayang), Alea (mantan pacar Dikta, selingkuh).

      Gaya bahasa yang digunakan sangat tepat dan mudah dipahami oleh pembaca sehingga pembaca akan tersentuh hatinya dan memiliki imajinasi terhadap novel ini. Percakapan dalam novel ini bersifat narasi dan dialog sehingga memberikan efek menarik, bervariatif dan segar untuk pembaca. Bukan memberikan efek membosankan atau jenuh.

     Kelemahan dari novel ini, alur yang diberikan ada beberapa yang mudah ditebak gimana adegan selanjutnya dan ada adegan yang berlebihan sehingga pembaca akan merasa heran dengan tokoh yang ada dalam ceritanya. Dalam penggambaran tokoh Jeno bisa dikatakan kurang tepat, karena karakter Jeno tidak bisa dinikmati kelogisannya dan tidak disampaikan dengan posisi yang masuk akal.

     Kelebihan dari novel ini, pembaca akan terbawa suasana yang terjadi dalam novel ini. Rasa sedih, senang, kecewa akan terasa oleh pembaca. Novel ini tidak hanya menceritakan kisah cinta Nadhira dan Dikta, tetapi juga menceritakan persahabatan serta kekeluargaan. Persahabatan Dikta bersama temannya sangat kental. Mereka tidak segan menunjukan rasa sayangnya kepada sahabatnya secara terang-terangan.

     Dalam novel ini banyak pelajaran yang bisa kita ambil seperti, betapa pentingnya menjaga kesehatan, cara mempertahankan persahabatan, cara menyelesaikan masalah dan lain sebagainya. Di sini kita juga tahu bahwa laki-laki tidak harus selalu kuat. Ada masanya mereka rapuh, karena mereka manusia. Seperti Dikta yang tidak bisa menahan rasa lelahnya sehingga Ia mudah sedih.

      Dari novel ini kita bisa tahu bahwa cinta bisa mengubah pola pikir dan tingkah laku seseorang. Seperti Nadhira yang dulunya malas menjadi rajin belajar. Cinta juga bisa membuat tidak mungkin jadi mungkin. Misalnya Dikta yang awalnya cuek jadi perhatian dan memperhatikan hal-hal kecil yang biasanya Nadhira lakukan.




Teks Esai

Pengaruh Media Sosial dalam Kasus Stereotyping

     Tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial sekarang ini sudah sangat merajalela dan hampir digunakan oleh setiap orang di seluruh dunia. Media sosial sendiri merupakan sebuah sarana media online yang berguna sebagai tempat berkomunikasi, bersosialisasi dan berinteraksi di dunia maya.

     Penggunaan media sosial memberikan dampak yang sangat positif terutama dalam melakukan interaksi baik secara sosial, politik maupun ekonomi. Penggunaan media sosial memberikan kemudahan dalam berkomunikasi, baik teman, keluarga yang tidak memungkinkan dilakukan melalui face to face karena faktor jarak. Namun, dimana ada dampak positif maka juga ada dampak negatif dari sesuatu. Diantaranya yaitu stereotyping.

     Stereotipe adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat. Tentunya sisi negatif dari sebuah stereotipe yaitu memberikan kesempatan untuk sebuah proses dimana suatu sifat, biasanya negatif, digeneralisasikan untuk semua anggota kelompok tertentu.

     Contoh dalam kasus tersebut yaitu mulai rame di sosial media untuk remaja-remaja yang pergi ke psikolog dan psikiater untuk konsul mengenai masalah-masalah di umur mereka yang masih muda. Banyak yang memberikan klaim bahwa orang yang pergi ke tempat tersebut dengan alasan untuk mencari perhatian daripada mencari pertolongan. Sehingga memberi impresi bahwa para remaja yang sebenarnya sedang dalam masalah hanya pergi konsul untuk dikasihani atau mencari perhatian saja. Padahal mereka sebenarnya benar-benar membutuhkan pertolongan.

     Selain kasus tersebut, banyak pula kasus lainnya yang tanpa disadari bisa menjelekkan atau memberikan label yang belum tentu benar pada suatu hal tertentu. Seperti pandangan bahwa Kalimantan hanya penuh dengan hutan saja atau seseorang yang nikah muda akan berakhir sengsara. Hal tersebut mungkin ada unsur-unsur kebenaran tetapi kita seharusnya mencari tahu lebih dalam dari kasus-kasus tersebut. Dimana Kalimantan tentu memiliki kota yang sudah berkembang dan kemungkinan seseorang yang nikah muda sengsara tidak akan selalu, karena pernikahan berdasarkan kesiapan seseorang menghadapi jenjang tersebut.

     Tentunya stereotipe tersebut tersebar atas postingan yang beredar melalui sosial media, dimana seseorang berjumpa dengan post tersebut lalu berinteraksi tanpa mencari terlebih dahulu dan beranggapan bahwa postingan tersebut sesuai fakta. Lalu ia sebarkan melalui sosial media ataupun rekan kerja, teman, dan keluarganya pada kehidupannya diluar sosial media. Hingga saat bertemu kelompok yang merupakan bagian dari kelompok tersebut langsung berasumsi. Walaupun kadang baik, ada juga asumsi buruk tanpa tahu kebenarannya.

     Oleh karena itu, apabila kita menjumpai suatu konten di sosial media mengenai hal yang kita kurang tau, akan lebih baiklah bila kita mencari tau terlebih dahulu daripada berasumsi semua itu benar dan melakukan generalisasi pada suatu kelompok tertentu. Sesungguhnya sosial media dan dunia nyata itu terkadang merupakan dua hal yang berbeda. Sesuatu yang ada di sosial media tidak akan selalu sama di dunia nyata. Memberikan generalisasi terhadap suatu kelompok apalagi bila itu negatif hanya akan memberikan dampak yang buruk pada kelompok-kelompok tersebut.


- sekian. terima kasih


Komentar

  1. Teks kritik dan essai yang dibuat sudah sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan. Pemilihan novel yang dipilih pun sangat menarik karena novel tersebut banyak dibicarakan oleh orang orang.

    BalasHapus
  2. Teks kritik dan esai yang dibuat sudah sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan, gaya bahasa yang digunakan mudah dipahami dan menarik untuk dibaca

    BalasHapus
  3. Teks kritik dan teks esai sudah sesuai dengan kaidah kebahasaan 👍

    BalasHapus
  4. Teks kritik yang ditulis sudah lengkap dan sangat menarik. Esai yang ditulis juga sudah sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan teks esai .

    BalasHapus
  5. Teks esai dan kritik yang dibuat bagus dan menarik, sudah sesuai kaidah kebahasaan dan struktur yang benar. Penulisannya juga rapi dan mudah dimengerti

    BalasHapus
  6. Teks kritik dan teks esai tersebut sudah sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan. Bahasanya jelas dan mudah dimengerti

    BalasHapus
  7. Teks kritik yang dibuat sudah bagus dan sesuai baik itu kaidah kebahasaannya ataupun strukturnya. Teks esai yang dibuat juga sesuai dan cukup menarik.

    BalasHapus
  8. Teks essai yang dibuat membahas topik yang sangat menarik dan mengedukasi bagi pembaca, selain itu gaya bahasa yang digunakan juga mudah untuk dimengerti dan disajikan dengan jelas sehingga pembaca tidak bosan.

    BalasHapus
  9. Teks kritik dan esai yang dibuat menarik untuk dibaca, mudah dimengerti, kaidah kebahasaan dan strukturnya juga sudah tepat.

    BalasHapus
  10. Teks kritik dan essai sudah sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan dan memuat topik yang menarik👍🏻

    BalasHapus
  11. Struktur serta kaidah kebahasaan Essai dan Kritik nya sudah baik dan benar

    BalasHapus

Posting Komentar